Getaran Cinta yang Dibisiki Nafsu ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 30 Oktober 2010 
 
 
"Ya Allah, laki-laki itu begitu menggoda hati hamba, apakah hamba telah jatuh cinta padanya? Apakah ia adalah sosok dambaan hati hamba selama ini? Ya Allah, kenapa kerisauan di hati ini selalu menimpa disaat tak bertemu dengannya? Ya Allah, begitu mempesonakah ia? Ya Allah, bimbinglah cinta ini ke jalan yang Engkau ridhai."


Itulah kata-kata yang sering terlontar dari bibirnya. Kata-kata yang terangkai dari kegelisahan yang tidak pernah selesai. Kalimat yang tersusun dari gejolak yang sering memberontak dalam jiwanya.
Hatinya sering menjerit. Ia seakan tak sanggup mengontrol perasaan yang selalu bergemuruh dalam dadanya, apalagi disaat berhadapan dengan laki-laki itu. Tatkala ia bertatap muka dengannya, ada rasa kegembiraan yang begitu sulit ia gambarkan. Ada kecemasan yang tak ia pahami. Pertemuan-pertemuan yang selalu tak terduga. Ketika bersua di halte, dalam bis, dalam sebuah acara dan bahkan disaat nama laki-laki itu disebutkan. Hatinya bergetar, dadanya sesak dan gejolak-gejolak yang tak ia pahami seakan berupaya menguasai hatinya.
Sering kali ia berusaha menghindar, namun waktu seakan berusaha untuk mendekatkan jarak antara dirinya dengan laki-laki tersebut.


Ia telah berupaya mati-matian untuk melepaskan ingatan yang acap kali menjelma dalam pikirannya. Ia juga sering bertarung dengan bisikan-bisikan yang selalu menggoda hatinya.
Ia tahu, sebagai seorang wanita perasaan itu wajar muncul, tapi ia heran apakah saat ini dan pada sosok itu. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sering kali menangis. Menangisi dirinya yang begitu lemah, labil dan mudah goyah.
Akankah cinta berbagi? Banyak gejolak yang bermunculan dalam hatinya.
Dalam tangisnya ia sering berkata, "Aku tak boleh lemah, aku tak boleh membagi cinta ini. Aku tak ingin mengkhianati orang yang selama ini telah begitu penuh mempercayaiku. Tapi, aku tak kuasa membendung gelombang perasaan yang selalu menyesakkan ruang dada ini.
Kalau aku tahu akan seperti ini, aku menyesal dengan pertemuan itu. Aku tidak akan mau mengikuti kegiatan itu. Tapi semuanya sudah terjadi, tak ada yang perlu disesali. Penyesalanpun saat ini tidak akan memberi arti."
Laki-laki tersebut adalah kakak pembimbing belajarnya. Seorang pemuda yang menurut penilaiannya begitu perfek. "Ah, begitu sempurna," decaknya berulang kali penuh kagum. Seorang laki-laki yang punya segalanya. Bahkan pikirannya sering melayang jauh untuk bisa lebih dekat dengan laki-laki tersebut. Tapi, seketika ia sadar, pikiran-pikiran itu salah dan tidak layak.
Saat ini, ia telah menikah dengan seorang laki-laki pilihan orang tuanya. Ia memang tipe seorang anak yang patuh. Demi cintanya pada orang tua, ia rela mewujudkan apapun permintaan orang tuanya selama masih dalam ridha Allah. Apalagi sebagai seorang anak tertua ia harus menjadi teladan bagi adik-adiknya dalam kepatuhan pada orang tua.
Ia pun sadar, telah sekian bulan menikah, rasa cinta belum hadir di relung hatinya. Kehidupan rumah tangganya masih sunyi dari canda dan tawa. Ia masih belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diri dengan laki-laki yang saat ini tengah hidup bersamanya.




Untuk memudahkan dirinya memahami diktat kuliah, ia meminta pada suaminya untuk mengizinkannya mengikuti bimbingan belajar. Suaminya pun tidak keberatan, walaupun pembimbingnya seorang laki-laki, tapi karena kepercayaan dan cinta yang telah tertanam kuat dalam hatinya pada istrinya, suaminyapun mengizinkan.
Pelajaran Mantik, adalah diantara pelajaran yang masuk kategori sulit di kalangan mahasiswa/i, sehingga banyak mahasiswa/i yang nilainya pas-pasan di bidang ini.
Adapun sang pembimbing tersebut adalah seorang mahasiswa yang berprestasi, gagah, cerdas, rapi dan berwibawa. Seorang laki-laki yang kalau berbicara begitu sanggup memukau pendengarnya, seorang laki-laki yang kata-katanya mampu membuat telinga wanita-wanita tahan berlama-lama mendengarkannya. Seorang pemuda yang punya logika berfikir yang matang. Tak heran banyak mahasiswi yang melirik padanya dan berharap bisa menjadi pendampingnya, hanya saja ia sudah punya komitmen untuk menyelesaikan studi sampai jenjang S2, kemudian baru menikah.
Satu dari sekian mahasiswi yang punya simpati itu adalah dirinya. Ia merasa laki-laki yang menjadi pembimbingnya selayaknya menjadi suaminya. Ia sejak dulu mendambakan suami yang cerdas, gagah dan berprestasi. Ya, ia ingin punya suami yang perfek. Tapi takdir berkata lain, ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan orang yang tidak ia kenal sebelumnya.


Hari-harinya tidak pernah tenang, ia diliputi dua perasaan yang berlawanan, dua cinta berusaha mengambil alih dan merebut mahkota hatinya.
Suaminya, walau tidak begitu berprestasi di bangku kuliah tapi ia dikenal seorang yang gigih dan taat. Punya usaha yang lumayan sukses.  Yang dari keuntungan hasil usaha itu ia kirimkan ke kampung untuk membantu sekolah adik-adiknya.
Suaminya sebenarnya seorang yang tak kalah pintar juga, hanya saja kesibukannya di luar aktifitas kuliah; menghadiri berbagai talaqi dan dunia bisnis, sehingga terkadang pulang larut malam, membuatnya tidak begitu menonjol di bangku kuliah. Disisi lain, suaminya punya kepribadian yang baik dan seorang yang patuh menjalankan perintah agama. Seorang yang sangat cinta pada Al-Qur`an dan buku-buku hadits. Dua pedoman itu seakan tidak pernah lepas dari genggamannya. Yang selalu ia bawa, baca, renungkan, hafalkan dan amalkan. Satu hal inilah yang menjadi perbedaan yang menonjol antara suaminya dengan pembimbing belajarnya yang tak lain sahabat suaminya.
Waktu terus berjalan. Suaminya tak pernah bosan menunjukkan rasa cintanya. Suaminya memang seorang yang sangat penyabar. Seorang laki-laki yang berhati lembut dan berkepribadian matang. Seorang laki-laki yang dari pancaran air mukanya terlukis ketakwaannya. Betapa tidak, setiap malam shalat tahajud hampir tidak pernah ia tinggalkan, membaca Al-Qur`an seakan makanan yang tak pernah ia lupakan.


Ia sendiri heran, kenapa dirinya belum sepenuhnya mencintai laki-laki yang telah halal baginya. Dan kenapa cintanya ingin berlabuh pada laki-laki yang tidak halal bagi dirinya.
Inikah akibat dari mata yang tidak bisa terjaga? Inikah akibat dari mengikuti bisikan-bisikan hawa nafsu?
Pada suatu malam, ia terbangun oleh suara tangis yang menerobos ruang telinganya, suara itu berasal dari ruang tengah rumahnya.
Ia bangun dan mengikuti sumber suara itu. Suasana ruang tengah remang-remang, ia melihat suaminya tengah bersimpuh, mengangkat kedua tangannya ke langit, suaminya tengah berdo`a pada Allah, "Ya Allah, Tuhan yang menggenggam jiwa hamba, betapa diri ini mencintai-Mu. Betapa kerinduan hamba pada-Mu terus membuncah. Betapa hamba tak tahan lagi untuk segera bertemu dengan-Mu, Ya Allah karuniakanlah hamba syahid di jalan-Mu. Ya Allah, hamba bersyukur pada-Mu, karena Engkau telah mengabulkan do`a hamba selama ini. Engkau telah menganugerahkan hamba seorang istri yang elok dipandang, patuh dan baik. Hamba bersyukurpada-Mu ya Allah. Hamba mencintai dirinya karena-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta kami karena-Mu, untuk-Mu dan ikhlas karena-Mu, dan jadikanlah cinta kami menjadi jalan menuju sorga-Mu."


Ia terharu dan tak sanggup membendung perasaannya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Pikirannya jauh melayang tentang dosa-dosanya pada suaminya. Ia telah mengikuti bujuk rayu setan dan hawa nafsunya selama ini. Ia merasa telah mengkhianati cinta suaminya yang selama ini tulus diberikan padanya. Setan dan hawa nafsu berusaha untuk menghancurkan ketulusan cintanya dan kehidupan rumah tangganya. Dan ia pun tersadar dari kekhilafannya selama ini.
Ia tidak tahan lagi, segera ia memeluk suaminya, dan tangisnya semakin berderai, segera ia menyampaikan permintaan maaf pada suaminya. Ia menyesali perbuatannya yang telah salah tersebut.
Sejak saat itu, hatinya telah kembali tenang, bunga cinta di taman hatinya telah tumbuh dan mulai bermekaran. Dan sejak saat itu cintanya pada suaminya begitu besar. Ia bersyukur pada Allah telah menyadarkan dirinya dan telah menganugerahkan padanya seorang suami yang soleh dan taat.

CINTAKU YANG HENING ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 30 Oktober 2010


"Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan."



Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan "apa kabar…"
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..
Lelah untuk mencari secuil kesempatan menyentuh atau membauinya.

Lelah dan lelah dan lelah..



Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "apakah aku cukup pantas?"
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..


Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.
Namun itu pula yang saya rasakan selama hampir lebih dari sepekan.




Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu"
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik – baik saja"
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.



Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..


Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..

Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..

Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..


Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan
"Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja"


Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.


Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.



Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam

KISAH JILBAB HATI ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 31 Oktober 2010 
 
 
Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥


Hingga di suatu malam…
Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamualaikum, saudariku..”
“Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku.”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.” “Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.”
Wanita itu tersenyum lagi. “Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”
“Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.
“Ayo, kita ikuti mereka.” kata wanita itu sambil setengah berlari.
“Apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.
“Tentu saja surga, saudariku” larinya semakin cepat.
“Tunggu…tunggu aku..” ia berlari namun tetap tertinggal.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, ” Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?”
“Sama denganmu, saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”


♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

PAHAMI TAKDIR ILAHI ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 21 Oktober 2010
 
 
 
Kenapa kita pernah merasakan patah hati? Kenapa kita pernah merasakan sedih? Kenapa kita pernah merasakan jenuh dalam menghadapi hidup ini? Dan kenapa pula kita pernah merasakan hal-hal yang kurang berkenan dihati?
Jawabannya adalah karena kita tidak memahami takdir Ilahi secara hayati. Sebuah takdir yang memang sudah tertulis untuk kita masing-masing. Setiap manusia sudah ada jalan hidupnya masing-masing akan seperti apa. Allah SWT telah menentukan jalan yang harus kita lalui dalam kehidupan kita ini. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjalankannya, tapi aturan ada ditangan-Nya..

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita memang sudah diputuskan oleh Allah akan seperti itu. Maka tak perlu disesali, tak perlu ditangisi dan tak perlu diratapi. Karena bila itu terjadi maka hanya akan menambah beban dihati. Sesuatu hal yang buruk yang menimpa kita belum tentu itu buruk dihadapan Allah. Allah memberikan musibah itu mungkin agar kita mengambil hikmah dari kejadian tersebut, Meskipun terkadang kita merasa kesal, bete, sedih, dll.
Tapi sesudah itu pasti ada kebaikan. Hikmah yang bisa kita ambil antaralain dapat membuat kita lebih waspada dalam mengarungi hidup ini., membuat kita berpikir untuk tidak melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya, membuat kita lebih tegar dan berpikir lebih dewasa serta membuat kita lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah yang akan menimpa kita selanjutnya. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah kita harus tetap mendekatkan diri kita kepada Allah Yang Maha Esa.
Apabila kita telah memahami setiap yang terjadi merupakan sebuah takdir Ilahi maka hidup kita akan lebih tenang, tentram dan nyaman serta menyenangkan. Karena kita yakin setelah kejadian itu pasti akan ada hasil yang terbaik dan akan jauh lebih indah dari apa yang telah kita bayangkan. Jadi untuk apa diratapi.



Ingatlah, tak ada sesuatu hal yang sia-sia yang Allah berikan untuk kita. Allah tak akan menyia-nyiakan apa yang telah kita lakukan dalam setiap celah kehidupan ini. Apa yang telah kita lakukan pasti akan dilihat oleh-Nya. Tak mungkin Allah akan mencampakkan kita begitu saja.
Untuk menjalani hidup ini yang kita perlukan adalah kesabaran. Dengan sabar kita tidak akan terbuai oleh emosi keji. Dan kesabaran akan membuahkan keberhasilan..


Setelah kita memahami takdir Illahi yang kita rasakan adalah ketenangan hati. Menjalani hari tak akan mungkin ada rasa gundah hati. Hati jadi lebih bersih, jiwa jadi lebih terkondisi dengan baik. Ini bukan sekedar kata-kata tapi bagaimana cara kita untuk mau mencobanya sedikit demi sedikit dalam keseharian kita. So, marilah kita pahami takdir Ilahi dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi dalam setiap kehidupan kita ini. Tanamlah keyakinan itu dalam diri kita maka hidup kita akan jauh lebih berarti. Ayo, bangkitlah dari keterpurukan wahai Saudaraku!!!!

Hanya ini yang bisa aku katakan karena seperti itulah yang aku rasakan. Hidup tak seindah khayalan, namun dapat menjadi lebih indah apabila kita mau menghadapinya dengan penuh ketangguhan. Mohon maaf apabila ada kekurangan, kata yang salah itu datangnya dari saya dan kata yang benar itu datangnya dari Allah SWT.
KUNJUNGI BLOG TKI : http://nowilkirin.blogspot.com/

KehadiranMU ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 21 Oktober 2010
 
 
 
Tuhan...........
Aku tahu jalan menujuMu
Sesuai petunjukMu
Begitu mudah ..Begitu dekat.....
Dan selalu melekat dimanapun aku berada

Namun manusia dengan segala kesombongannya.....
Dan dengan segala ilmu yang baru sedikit didapat.......
Membuat petak-petak dan tahap-tahap...
Seolah Engkau sukar di gapai.....
Tak ada seorangpun akan sampai...........

Aku jadi bingung ..
Mengapa ilmu manusia semakin tinggi........
Semakin memIsahkan diri.......

Tapi biarlah mereka buat aturan sendiri....
Aku tetap yakin kepadaMu...
Yang selalu menaungi diriku....
Yang selalu menerima taubatku....
Dan aku pun akan terus Terhubung denganMu...



Biarlah pintu-pintu.........
Tangga-tangga......
Yang dibuat manusia........
Untuk menujuMu......
Diperbanyak , dipercuram...

Namun aku......Selalu merasa KehadiranMu...
Di manapun keberadaan ku...

Artikel Lain :